UTS Sistem Pakar 2019-2020



SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSIS PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK

1.             Definisi, Konsep, Karakteristik, Bentuk dan Struktur Sistem pakar
Sistem pakar adalah aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sebagaimana yang dipikirkan oleh pakar. Pakar yang dimaksud di sini adalah, orang yang mempunyai keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh orang awam.
Permasalahan yang sering dialami salah satunya yaitu penyakit infeksi pada anak seperti infeksi virus, infeksi bakteri, dan infeksi parasit. Penyakit diare, demam tifoid, demam berdarah, infeksi saluran pernapasan atas (influenza, radang amandel, radang tenggorokan) dll merupakan penyakit infeksi yang termasuk ke dalam 10 penyakit terbanyak rumah sakit di Indonesia.
Permasalahan lain terjadi pada pendistribusian dokter yang tidak merata. Maka dari itu salah satu solusi dari permasalahan ini adalah dengan membuat sistem yang dapat membantu tenaga medis non dokter untuk mendiagnosis penyakit infeksi. Sistem pakar akan membantu tenaga medis non dokter untuk mendeteksi penyakit serta mendapat informasi solusi pengobatannya sejak dini sehingga dapat dilakukan penanganan segera. Sistem pakar juga diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang cukup rumit yang sebenarnya hanya dapat diselesaikan dengan bantuan para ahli
Sistem pakar  ini dapat membantu dalam menentukan penyebab terjadinya penyakit infeksi pada anak. Konsep dari sistem ini adalah berfokus pada pembuatan dan pengembangan sebuah sistem pakar yang berisi pengetahuan dari seorang pakar yang diyakini kebenarannya sehingga dapat membantu tenaga medis no dokter untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyakit infeksi pada anak dengan cepat dan tepat.
Struktur dari system pakar ini adalah sebagai berikut :



Pada struktur sistem diatas, ada dua bagian penting dari system pakar yaitu ingkungan konsultasi dan lingkungan pengembangan. Lingkungan konsultasi digunakan oleh pengguna untuk berkonsultasi sehingga pengguna mendapatkan pengetahuan dan nasihat dari sistem pakar layaknya berkonsultasi dengan seorang pakar. Lingkungan pengembangan digunakan oleh pembuat sistem pakar untuk membangun komponen-komponennya dan memperkenalkan pengetahuan ke dalam knowledge base (basis pengetahuan).

2.             Tahapan Dan Langkah-Langkah Pengembangan Sistem

a.       Studi Literatur
Studi kepustakaan dilakukan untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan penelitian secara umum, sistem pakar, forward chaining, macam-macam penyakit infeksi dan juga gejala-gejala apa saja yang dirasakan akibat penyakit infeksi.

b.      Akuisisi Pengetahuan
Tahap akuisisi pengetahuan disebut juga tahap pengumpulan knowledge. Tahap ini dilakukan input data gejalagejala, penyakit dan saran pengobatan

c.       Representasi Pengetahuan
Tahap representasi pengetahuan merupakan tahap yang digunakan untuk pengodean pengetahuan sistem pakar. Representasi pengetahuan terdiri atas pembuatan tabel keputusan, perancangan pohon keputusan

d.      Pengujian
Tahap ini dilakukan pengujian terhadap aplikasi dengan tujuan memastikan fungsionalitas aplikasi dapat berjalan sama seperti apa yang diharapkan. Dan juga nantinya akan dilakukan pengujian dengan cara membandingkan hasil penyakit pasien yang sudah didiagnosis oleh dokter dengan hasil diagnosis sistem.

3.           Proses Akuisisi Pengetahuan
Dalam proses Akuisisi Pengetahuan ini menggunakan cara Rule Induction yaitu untuk memperoleh pengetahuan dari pakar atau sumber lain, seperti sumber terdokumentasi, buku, sensor, file komputer, dan lain-lain. Dalam proses akuisisi pengetahuan, seseorang perekayasa pengetahuan menjembatani antara pakar dengan basis pengetahuan (knowledge base). Perekayasa pengetahuan mendapatkan pengetahuan dari pakar, mengolahnya bersama pakar tersebut dan menaruhnya dalam basis pengetahuan dengan format tertentu.
Penyakit infeksi tersebut antara lain penyakit diare, demam tifoid, demam berdarah, dan ISPA (infeksi saluran pernapasan atas). ISPA sendiri dapat dibagi menjadi 3 penyakit yaitu influenza, amandel, dan radang tenggorokan akut. Studi kasus yang digunakan adalah pada gejala umum. Demam merupakan gejala umum, sedangkan gejala lainnya antara lain, pilek, nyeri perut, sesak napas, sakit saat menelan, dan mendengkur saat tidur.
Dalam proses Rule Induction, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu :

4.             Rancangan Model Representasi Pengetahuan
Tahap representasi pengetahuan merupakan tahap yang digunakan untuk pengodean pengetahuan sistem pakar. Representasi pengetahuan terdiri atas pembuatan tabel keputusan, pohon keputusan dan membuat rule
a.         Tabel keputusan
Pada tabel keputusan dilakukan dengan cara mengidentifikasikan rule dari knowledge pakar kemudian memasukkan rule ke dalam alur penelusuran untuk ditelusuri dan untuk dijabarkan. 

No
Nama Gejala
Nama Penyakit
1
Deman
Diare
2
Pilek
Demam Tifoid
3
Nyeri Otot
Radang Tenggorokan
4
Sesak Napas
Influenza
5
Sakit saat menelan
Radang paru-paru
6
Tidur mendengkur
Radang Amandel

b.        Pohon Keputusan
Apabila pertanyaan gejala mempunyai jawaban “Ya” maka pada pohon keputusan akan dilanjutkan pertanyaan dengan jawaban “Ya” dan penelusuran akan dilanjutkan sehingga akan terjadi keputusan gejala penyakit infeksi yang diderita pasien. Contoh untuk gejala pertama pasien mengalami gejala demam maka selanjutnya sistem akan menampilkan pertanyaan “Apakah pasien mengalami nyeri perut?” apabila pasien tidak mengalaminya maka dilanjutkan dengan pertanyaan “Apakah pasien sedang pilek?”. Apabila pasien juga tidak mengalaminya sistem akan mendiagnosis pasien tersebut belum terdeteksi. Sistem akan berhenti menampilkan pertanyaan apabila sudah mencapai hasil, yaitu pasien didiagnosis penyakit infeksi atau sistem belum bisa mendeteksi penyakit yang diderita pasien.

c.         Membuat Rule
Rule tersebut menjelaskan penyakit berdasarkan gejalanya. Rule terdiri atas informasi masukan yang berupa gejala (if), lanjutan gejala-gejala (and) dan konklusi yang berupa diagnosis penyakit infeksi (then).
Ø  Rule 1 berisi
IF Demam
AND Nyeri Perut
AND Bab Cair
THEN Diare.
Hal ini berarti jika gejala demam, gejala nyeri perut, dan gejala bab cair diderita oleh pasien maka sistem mendiagnosis pasien tersebut menderita penyakit Diare.

Ø  Rule 2 berisi
IF Demam
AND Pilek
THEN Radang Paru-paru
Ø  Rule 3 berisi
IF Demam
AND Pilek
AND Sakit saat menelan
THEN Influenza

Ø  Rule 4 berisi
IF Demam
AND Pilek
AND Sakit saat menelan
AND Mendengkur saat Tidur
THEN Radang Amandel
Hal ini berarti jika gejala demam, pilek, sakit saat menelan dan mendengkur saat tidur yang diderita oleh pasien maka sistem mendiagnosis pasien tersebut menderita penyakit Radang Amandel.

Berdasarkan hal diatas dapat disimpulkan bahwa dengan melakukan tahap akuisisi pengetahuan dan representasi pengetahuan sistem pakar ini berhasil diimplementasikan. Metode forward chaining digunakan sebagai mesin inferensi di mana mesin inferensi berfungsi sebagai otak dari sistem pakar. Nilai akurasi dihitung dengan membandingkan nilai keberhasilan dalam pendeteksian sistem dengan jumlah pasien pengujian.
Terimakasih telah berkunjung dan membaca artikel saya tentang diagnose penyakit infeksi pada anak. Semoga bermanfaat dan jangan lupa jaga kesehatan guys J. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan ini. Semangaat !!

Komentar