SISTEM PAKAR UNTUK MENDIAGNOSIS PENYAKIT INFEKSI
PADA ANAK
1.
Definisi,
Konsep, Karakteristik, Bentuk dan Struktur Sistem pakar
Sistem pakar adalah
aplikasi berbasis komputer yang digunakan untuk menyelesaikan masalah
sebagaimana yang dipikirkan oleh pakar. Pakar yang dimaksud di sini adalah,
orang yang mempunyai keahlian khusus yang dapat menyelesaikan masalah yang
tidak dapat diselesaikan oleh orang awam.
Permasalahan yang
sering dialami salah satunya yaitu penyakit infeksi pada anak seperti infeksi
virus, infeksi bakteri, dan infeksi parasit. Penyakit diare, demam tifoid,
demam berdarah, infeksi saluran pernapasan atas (influenza, radang amandel,
radang tenggorokan) dll merupakan penyakit infeksi yang termasuk ke dalam 10
penyakit terbanyak rumah sakit di Indonesia.
Permasalahan lain
terjadi pada pendistribusian dokter yang tidak merata. Maka dari itu salah satu
solusi dari permasalahan ini adalah dengan membuat sistem yang dapat membantu
tenaga medis non dokter untuk mendiagnosis penyakit infeksi. Sistem pakar akan
membantu tenaga medis non dokter untuk mendeteksi penyakit serta mendapat
informasi solusi pengobatannya sejak dini sehingga dapat dilakukan penanganan
segera. Sistem pakar juga diharapkan dapat menyelesaikan masalah yang cukup
rumit yang sebenarnya hanya dapat diselesaikan dengan bantuan para ahli
Sistem pakar ini dapat membantu dalam menentukan penyebab
terjadinya penyakit infeksi pada anak. Konsep dari sistem ini adalah berfokus
pada pembuatan dan pengembangan sebuah sistem pakar yang berisi pengetahuan
dari seorang pakar yang diyakini kebenarannya sehingga dapat membantu tenaga
medis no dokter untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyakit infeksi pada anak
dengan cepat dan tepat.
Struktur dari system pakar ini adalah
sebagai berikut :
Pada struktur sistem diatas,
ada dua bagian penting dari system pakar yaitu ingkungan konsultasi dan
lingkungan pengembangan. Lingkungan konsultasi digunakan oleh pengguna untuk
berkonsultasi sehingga pengguna mendapatkan pengetahuan dan nasihat dari sistem
pakar layaknya berkonsultasi dengan seorang pakar. Lingkungan pengembangan digunakan
oleh pembuat sistem pakar untuk membangun komponen-komponennya dan
memperkenalkan pengetahuan ke dalam knowledge base (basis pengetahuan).
2.
Tahapan
Dan Langkah-Langkah Pengembangan Sistem
a. Studi
Literatur
Studi kepustakaan dilakukan untuk
mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan penelitian secara umum, sistem
pakar, forward chaining, macam-macam penyakit infeksi dan juga gejala-gejala
apa saja yang dirasakan akibat penyakit infeksi.
b. Akuisisi
Pengetahuan
Tahap akuisisi pengetahuan disebut juga
tahap pengumpulan knowledge. Tahap ini dilakukan input data gejalagejala,
penyakit dan saran pengobatan
c. Representasi
Pengetahuan
Tahap representasi pengetahuan merupakan
tahap yang digunakan untuk pengodean pengetahuan sistem pakar. Representasi
pengetahuan terdiri atas pembuatan tabel keputusan, perancangan pohon keputusan
d. Pengujian
Tahap ini dilakukan pengujian terhadap
aplikasi dengan tujuan memastikan fungsionalitas aplikasi dapat berjalan sama
seperti apa yang diharapkan. Dan juga nantinya akan dilakukan pengujian dengan
cara membandingkan hasil penyakit pasien yang sudah didiagnosis oleh dokter
dengan hasil diagnosis sistem.
3. Proses
Akuisisi Pengetahuan
Dalam proses Akuisisi Pengetahuan
ini menggunakan cara Rule Induction
yaitu untuk memperoleh pengetahuan dari pakar atau sumber lain, seperti sumber
terdokumentasi, buku, sensor, file komputer, dan lain-lain. Dalam proses
akuisisi pengetahuan, seseorang perekayasa pengetahuan menjembatani antara
pakar dengan basis pengetahuan (knowledge base). Perekayasa pengetahuan
mendapatkan pengetahuan dari pakar, mengolahnya bersama pakar tersebut dan
menaruhnya dalam basis pengetahuan dengan format tertentu.
Penyakit infeksi
tersebut antara lain penyakit diare, demam tifoid, demam berdarah, dan ISPA (infeksi
saluran pernapasan atas). ISPA sendiri dapat dibagi menjadi 3 penyakit yaitu
influenza, amandel, dan radang tenggorokan akut. Studi kasus yang digunakan adalah
pada gejala umum. Demam merupakan gejala umum, sedangkan gejala lainnya antara
lain, pilek, nyeri perut, sesak napas, sakit saat menelan, dan mendengkur saat
tidur.
Dalam proses Rule Induction, ada
beberapa tahapan yang harus dilakukan, yaitu :
4.
Rancangan
Model Representasi Pengetahuan
Tahap representasi
pengetahuan merupakan tahap yang digunakan untuk pengodean pengetahuan sistem
pakar. Representasi pengetahuan terdiri atas pembuatan tabel keputusan, pohon
keputusan dan membuat rule
a.
Tabel keputusan
Pada tabel keputusan
dilakukan dengan cara mengidentifikasikan rule dari knowledge pakar kemudian
memasukkan rule ke dalam alur penelusuran untuk ditelusuri dan untuk dijabarkan.
|
No
|
Nama Gejala
|
Nama Penyakit
|
|
1
|
Deman
|
Diare
|
|
2
|
Pilek
|
Demam Tifoid
|
|
3
|
Nyeri Otot
|
Radang Tenggorokan
|
|
4
|
Sesak Napas
|
Influenza
|
|
5
|
Sakit saat
menelan
|
Radang paru-paru
|
|
6
|
Tidur mendengkur
|
Radang Amandel
|
b.
Pohon Keputusan
Apabila pertanyaan
gejala mempunyai jawaban “Ya” maka pada pohon keputusan akan dilanjutkan
pertanyaan dengan jawaban “Ya” dan penelusuran akan dilanjutkan sehingga akan
terjadi keputusan gejala penyakit infeksi yang diderita pasien. Contoh untuk
gejala pertama pasien mengalami gejala demam maka selanjutnya sistem akan
menampilkan pertanyaan “Apakah pasien mengalami nyeri perut?” apabila pasien
tidak mengalaminya maka dilanjutkan dengan pertanyaan “Apakah pasien sedang pilek?”.
Apabila pasien juga tidak mengalaminya sistem akan mendiagnosis pasien tersebut
belum terdeteksi. Sistem akan berhenti menampilkan pertanyaan apabila sudah
mencapai hasil, yaitu pasien didiagnosis penyakit infeksi atau sistem belum
bisa mendeteksi penyakit yang diderita pasien.
c.
Membuat Rule
Rule tersebut
menjelaskan penyakit berdasarkan gejalanya. Rule terdiri atas informasi masukan
yang berupa gejala (if), lanjutan gejala-gejala (and) dan konklusi yang berupa
diagnosis penyakit infeksi (then).
Ø Rule
1 berisi
IF
Demam
AND
Nyeri Perut
AND
Bab Cair
THEN
Diare.
Hal ini berarti jika gejala demam, gejala
nyeri perut, dan gejala bab cair diderita oleh pasien maka sistem mendiagnosis
pasien tersebut menderita penyakit Diare.
Ø Rule
2 berisi
IF
Demam
AND
Pilek
THEN
Radang Paru-paru
Ø Rule
3 berisi
IF
Demam
AND
Pilek
AND
Sakit saat menelan
THEN
Influenza
Ø Rule
4 berisi
IF
Demam
AND
Pilek
AND
Sakit saat menelan
AND
Mendengkur saat Tidur
THEN
Radang Amandel
Hal ini berarti jika gejala demam, pilek, sakit saat
menelan dan mendengkur saat tidur yang diderita oleh pasien maka sistem
mendiagnosis pasien tersebut menderita penyakit Radang Amandel.
Berdasarkan
hal diatas dapat disimpulkan bahwa dengan melakukan tahap akuisisi pengetahuan
dan representasi pengetahuan sistem pakar ini berhasil diimplementasikan.
Metode forward chaining digunakan sebagai mesin inferensi di mana mesin
inferensi berfungsi sebagai otak dari sistem pakar. Nilai akurasi dihitung
dengan membandingkan nilai keberhasilan dalam pendeteksian sistem dengan jumlah
pasien pengujian.
Terimakasih telah
berkunjung dan membaca artikel saya tentang diagnose penyakit infeksi pada
anak. Semoga bermanfaat dan jangan lupa jaga kesehatan guys J.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan ini. Semangaat !!



Komentar
Posting Komentar